"Kejujuran Kami"
oleh : IDC
Bunyi sendok dan piring yang saling beradu terdengar
dengan lembutnya. Mataku berkedip gelisah sambil menatap jatah nasiku yang
menyisakan setengah dari porsi awalnya. Lalu melirik ke arah piring lain yang
memperlihatkan ayam goreng yang hanya tersisa satu buah. Sejenak aku berhenti
mengunyah, masih dengan menatap sepotong ayam itu aku mulai berpikir.
Namun tepat saat aku memutuskan untuk mengambil ayam
tersebut, tiba-tiba saja sudah menghilang dan kutemukan berpindah di atas piring
ayahku.
“Apa yang kau lakukan? Cepat selesaikan makanmu!”
Ucap ayah setengah berteriak.
Aku menunduk dengan patuh melanjutkan makanku.
“Ayah.” Ucap ibuku tertahan.
Grek..
“Hah.. aku masih lapar. Benar-benar makanan yang
payah!” Ucap ayahku sambil berlalu dari meja makan.
Aku hanya diam sambil mengunyah makananku pelan.
Tepukan dipundak kananku membuatku sadar lalu menatap ke arah ibuku yang sedang
tersenyum lemah sambil menatapku juga.
Menyadari itu akupun tersenyum, “Tidak apa ibu, ayah pasti lelah bekerja. Aku sudah kenyang
kok.”
Aku merasakan tangan ibu sedikit mengencang
dipundakku.
“Benar, makanlah nak.”
.
.
.
Seperti biasa, pukul tiga lebih lima belas tepat aku
pulang sekolah. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda. Entah kenapa aku ingin
melewati jalan lain dari jalan biasa yang aku lewati saat pulang sekolah.
Jalanan ini lebih jauh jika dibanding jalan yang
biasanya. Tapi aku menikmatinya, di jalanan ini aku bisa melewati sebuah
jembatan yang sebenarnya tidak terlalu spesial namun membuatku dapat bernafas
lega.
Aku berhenti di bagian tengah jembatan. Semilir
angin menerpa wajahku dengan lembut, kupejamkan mata mencoba menikmatinya.
Setelah puas berdiri disana dan melihat-lihat ke air yang ada dibawah jembatan,
aku kembali berjalan dan tepat di belokan jalan aku melewati sebuah bangunan
konstruksi yang sangat ramai dengan sekumpulan bapak-bapak yang tengah bekerja.
“Aku baru tahu kalau ada pembangunan di sekitar
sini.” Kataku pelan sambil berhenti sebentar di depan bangunan itu.
Sambil menghembuskan napas pelan, lalu beralih ke
arah jalanan. Kaki ku sudah siap untuk kembali berjalan namun terhenti begitu
mendengar suara yang tidak asing di telingaku.
Aku mengernyit bingung mendengarnya. Lalu menengok
mencoba mencari suara yang sedikit membuatku bingung itu dan terkejut menemukan
ayahku sebagai salah satu dari bapak-bapak pekerja konstruksi bangunan
tersebut.
“Ayah.” Gumamku pelan.
“Maaf pak, tapi tidak bisakan anda bekerja dengan
benar!? Kenapa kayu-kayu itu berserakan disana? Bukankah sudah kubilang untuk
membereskannya tadi? Ha!?”
Aku melihat seorang bapak-bapak lainnya yang
terlihat mengenakan pakaian sedikit berbeda sedang berbicara kepada ayahku.
“Ah ya, maafkan saya. Akan segera saya bereskan.”
Ucap ayahku sambil menunduk minta maaf lalu bergegas membereskan kayu-kayu yang
dimaksud oleh bapak-bapak tadi.
Tanganku terangkat ke arah dada lalu meremasnya
pelan. Aku terdiam masih menatap ayahku yang terlihat buru-buru membereskan
kayu-kayu itu.
Mataku berkedip khawatir melihatnya, “Kenapa, rasanya
sakit sekali?” Gumamku pelan beriringan dengan tanganku yang semakin kuat
meremas baju seragamku.
“Kopi hitamnya satu ya dik.”
“Ada lagi mas?”
“Hm . . itu saja dik. “
“Baiklah, tunggu sebentar ya mas. ”
Sebenarnya bekerja sambilan di salah satu kedai kopi
sudah lama kulakukan sejak kelas 2 SMA. Menjadi salah satu pegawai di tempat
makan adalah keinginanku saat kecil dulu. Tapi mengingat aku yang masih
bersekolah cukup sulit untuk melakukannya. Aku harus mengatur waktu dan juga
merahasiakannya dari sekolah dan orang tua.
“Kerja bagus hari ini, kau bisa pulang sekarang.”
Ucap Pak Turto, si pemilik kedai kopi.
Aku tersenyum, “Terimakasih pak, saya pulang dulu.”
Langit sudah sedikit menggelap, sudah sore. Sambil
berjalan santai menuju ke rumah aku memikirkan berbagai alasan untuk ibuku
nanti jika bertanya kemana saja aku hari ini. Tentu saja, aku harus
merahasiakan soal pekerjaan ini. Di lingkungan kami tinggal ini, pelajar masih
belum memiliki kewajiban untuk bekerja. Kebanyakan akan ditolak jika ingin bekerja
dimanapun.
Namun Pak Turto sedikit berbeda, beliau adalah ayah
dari Linda teman masa kecilku. Pak Turto menginjinkanku bekerja di kedainya
setelah bantuan dari Linda. Ingin mengabulkan keinginanku yang aneh itu
katanya. Aku tertawa kecil mengingatnya.
“Aneh apanya? Bekerja di kedai itu tidak aneh tahu?”
Itulah yang kuucapkan pada Linda saat dia memohon kepada ayahnya agar aku dapat
bekerja.
“Diam kau, kalau memang ingin bekerja di tempat
makan.” Balas Linda sambil menatapku tajam.
Aku menghela napas pelan. Lalu memandang ke arah
langit yang sudah memperlihatkan bintang-bintangnya. Sedikit melamun lalu
teringat kejadian kemarin malam.
.
.
.
Grek
“Ehem. Aku sudah selesai makan.”
Aku melihat ayahku yang berdiri, lalu menatap ayam
goreng yang masih tersisa dua di atas piring.
“Ayah, kenapa ayamnya tidak dimakan?”
Ayah berbalik lalu menatap ayam yang kumaksud lalu
beralih menatapku.
“Kau makan saja, ayah sudah kenyang.” Lalu kembali
berjalan ke arah kamar.
Alisku terangkat satu melihat perlakuan ayahku yang berbeda
dari biasanya.
“Makanlah nak.” Ucap ibuku menyadarkanku dari
lamunan.
“Ah iya, ibu juga. Itukan ayamnya masih ada dua,
untuk ibu satu.” Kataku sambil tersenyum.
.
.
Baru kemarin aku melihat ayahku yang bekerja di
konstruksi, lalu malamnya ayah terlihat seperti tidak berselera makan. Aku
bahkan baru tahu kalau ayah bekerja di konstruksi. Seingatku ayah bekerja di
kantor kakek, dan seharusnya hari itu ayah libur.
Sambil masih memikirkan kejadian-kejadian kemarin,
tanpa kusadari ayahku berdiri tepat di depanku yang entah datang dari mana.
Sontak aku terkejut melihatnya, “Eh A-ayah?”
“Darimana saja?” Tanya ayah sambil menatapku tajam.
“Ah itu, dari rumah teman.” Jawabku yang semakin
memelan di akhir kalimat.
“Ada tugas kerja kelompok . . tadi.” Lanjut menyadari
ayah yang hanya menatapku semakin tajam.
“Kau baru keluar dari kedai Pak Turto tadi, aku
meilhatmu.” Ucap ayah yang membuat membulat kaget.
Mulutku terbuka mencoba mencari alasan lain, namun
tertahan karena takut melihat ekspresi ayah yang seakan-akan berkata ‘tidak ada
alasan-alasan’
“Kenapa kau melakukannya nak?” Dan aku berani
bersumpah ayahku dengan lembut bertanya. Aku terkejut menyadari suara dan
ekspresi ayah yang mulai melembut menatapku.
Aku terdiam mendengarnya, aku bisa saja mengatakan bahwa
aku hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan tapi entah kenapa aku hanya bisa
terdiam tidak menjawab pertanyaan ayah.
“Maafkan ayah nak.”
“Ayah akan berusaha lebih keras lagi, jangan
melakukan pekerjaan sambilan lagi. Dan fokuslah belajar, ayah akan menuntunmu
ke tempat yang kau inginkan. Ayah akan menjadi jembatan untukmu, jadi ayah
mohon.” Tangan ayah terangkat lalu
memegang kedua bahuku sambil meremasnya pelan.
Aku mengernyit, perasaan ini lagi.
‘Kenapa sakit sekali?’ Pikirku
Dan tanpa sadar aku meneteskan air mata sambil
menatap ayah yang sedang menatapku lembut.
“Jangan menangis nak, ini sudah kewajiban ayah.”
Ayah terlihat sedikit panik melihatku menangis.
“Kenapa ayah melakukan itu?” Tanyaku dengan suara
serak.
Ayah menatapku bingung, tidak mengerti.
“Kenapa ayah bekerja di konstruksi itu, dan tidak
memberitahuku?” Lanjutku dan tangiskupun semakin pecah.
Dan detik berikutnya aku merasakan ayah memlukku
dengan erat.
“Ayah selalu dimarahi disana. Aku melihatnya ayah!
Aku melihatnya!” Dan akupun mulai kehilangan kendali. Aku berteriak meluapkan
semua kekesalan yang kupendam selama ini, dengan tangisan yang juga belum
berhenti.
Aku bisa merasakannya kali ini, kehangatan dari
suara lembut ayahku, pelukannya yang hangat, dan tepukan pelan di punggungku.
Aku menyayangi nya, Ayahku yang terbaik.
.---.
.---.

0 komentar:
Posting Komentar